Teknologi Jajar Legowo 2:1 dan Benih Hibrida Terbukti Mampu Dongkrak Produksi Padi di Gianyar
Gianyar – Penerapan teknologi pertanian modern di Subak Sanga, Kecamatan Sukawati, Kabupaten Gianyar, terbukti menunjukkan hasil yang menggembirakan. Meningkatnya pendapatan dari penggunaan teknologi pertanian modern secara konsisten dirasakan oleh I Made Widapa (66 tahun), warga Banjar Telabah, Desa Sukawati, Kecamatan Sukawati, Kabupaten Gianyar yang juga salah satu anggota Subak Sanga, Gianyar.
Wiidapa mengaku telah menerapkan teknologi pertanian modern sejak tahun 2013. Teknologi modern yang diterapkan antara lain penggunaan traktor, sistem jajar legowo 2:1, dan penggunaan benih padi Hibrida. Widapa memilih varietas hibrida karena tahan rebah, produktivitas tinggi, rasa nasi pulen, dan mudah dipasarkan.
Pada lahan milik sendiri seluas 0,32 hektar Widapa kelola menggunakan sistem tanam Jajar Legowo 2:1, yang telah diterapkan secara berkelanjutan. Menurutnya, sistem tersebut memberikan banyak manfaat, seperti penghematan biaya dan tenaga kerja, serta peningkatan hasil panen. Terkait panen, kepada pemerintah Widapa berharap ke depan mendapat bantuan berupa alat perontok padi sehingga panen bisa ia lakukan sendiri dan lebih efisien.
“Dulu sebelum menggunakan benih hibrida, hasil panen sekitar 70 kg per are GKP. Setelah menggunakan benih Hibrida dan sistem Jajar Legowo, hasil meningkat menjadi 105 kg per are GKP" jelasnya.
Koordinator BPP Kecamatan Sukawati, Ni Ketut Poliadi, S.P., menyampaikan bahwa sistem Jajar Legowo yang diterapkan petani di Subak Sanga sangat dirasakan manfaatnya karena mampu meningkatkan pendapatan, terlebih dengan dukungan penggunaan varietas hibrida unggul. Ia juga mengakui bahwa I Made Widapa sebagai salah satu petani panutan di Subak Sanga.
Sementara itu, Penyuluh BRMP Bali, Desak Rai Puspa mengatakan sangat mengapresiasi semangat dan konsistensi petani dalam menerapkan budidaya sistem Jajar Legowo secara berkelanjutan. "Keberhasilan ini dapat menjadi contoh bagi petani lain di wilayah tersebut.
Dari sisi harga jual gabah petani tidak mengalami kendala. Gabah petani dibeli dengan harga Rp 6.500 per kilogram. Hanya kadang petani harus mengeluarkan biaya pengangangkutan dari lokasi panen ke jalan raya" ungkapnya.
Desak berharap, banyak lagi petani lain di Subak Sangga mengunakan sistem Jajar Legowo dan teknologi modern lainnya untuk meningkatkan efisiensi. "Kami simpulkan penerapan teknologi pertanian modern di Subak Sanga menjadi bukti bahwa inovasi dan komitmen dalam budidaya mampu meningkatkan produktivitas sekaligus kesejahteraan petani" tutupnya.
(Rai Puspa)